Sunday, 7 June 2015

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Sitti, Film Kualitas Dunia yang Terpinggirkan di Negeri Sendiri.
Bagi seorang nelayan, laut adalah ladang yang luas, yang memberikan mereka makanan dan kebahagiaan. Tapi terkadang, laut jugalah yang menghempaskan segala impian ketika laut mengambil sumber penghasilan mereka.

Bagus (Ibnu Widodo) punya impian yang besar. Ia ingin membahagiakan istrinya, Siti (Sekar Sari) dan anaknya, Bagas (Bintang Timur Widodo). Dengan tekad yang bulat, ia memberanikan diri meminjam uang dari seorang rentenir untuk membeli sebuah kapal.

Impian keluarga itu karam ketika Bagus mengalami musibah di laut. Kapalnya hilang ditelan ombak dan ia pun mengalami kelumpuhan total.

Cerita film SITI dimulai di sini. Siti dengan tegar mengambil alih tugas suaminya mencari nafkah, untuk menyambung hidup keluarga kecil mereka. Hebatnya Siti, tak cuma jadi nakoda rumah tangga. Ia tetap menjalankan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu bagi anaknya.

Seiring mentari yang mulai mengintip dari cakrawala, Siti telah memulai tugasnya sebagai ibu. Mencuci baju, memasak, memandikan Bagas dan mempersiapkan keperluan sekolahnya.

Rampung berbenah segala urusan rumah tangga, dengan tekun ia membungkusi peyek jingking bersama si Mbok, mertuanya. Di siang hari mereka pergi ke pantai Parangtritis menjajakan camilan sederhana itu kepada para pelancong.

Sengatan terik matahari di atas kepala tak mereka hiraukan. Dengan ramah mereka menyambangi orang satu-persatu, menawarkan Peyek Jingking. Tolakan untuk membeli mungkin sama banyaknya dengan tawaran yang mereka ucapkan, namun mereka tetap tegar menelan semua itu.

Hari hampir senja ketika Siti dan si Mbok bertemu kembali sambil menghitung laba yang tak seberapa. Dengan berbesar hati mereka berkata mungkin itu bukan hari libur karena tak banyak pelancong di Parangtritis.

Sementara itu, Bagus yang sudah tak bisa bergerak lagi hanya terbaring di kamar. Ia begitu hancur dan terpuruk melihat istrinya berjuang mati-matian seorang diri sementara ia hanya terkapar tak berdaya.

Siti adalah teladan seorang istri. Dengan telaten ia membasuh tubuh suaminya, mengganti pakaiannya, dan menyuapinya. Dengan penuh pengertian dan kesabaran ia memahami penderitaan yang dialami suaminya. Curahan kasih sayangnya tak berkurang sedikit pun.

Hari-hari belakangan ini ada yang mengganjal hati Siti. Bagus tak pernah berbicara lagi padanya barang sepatah kata. Ia kecewa setelah mengetahui Siti bekerja sebagai pemandu karaoke di malam hari.

Siti memang tak punya pilihan lain. Hutang Bagus yang Rp10 juta baru setengahnya lunas dalam setahun. Siti sudah bingung hendak lari ke mana bila bapak rentenir datang mencarinya, sementara dhodholan (jualan) peyek jingking tak bisa diandalkan untungnya. Tawaran bekerja menemani pria-pria kesepian mabuk dan bernyanyi dengan suara pas-pasan di klub karaoke pun mau tak mau ia jalani.

Tak mudah memang mengumpulkan rupiah dengan bekerja di klub karaoke liar di pinggiran Jogjakarta. Belum lama, karaoke tempatnya bekerja digerebek polisi, peralatan sound system-nya disita. Satu-persatu pegawai karaoke diperiksa identitasnya oleh polisi.

Di momen yang menegangkan inilah Siti berkenalan dengan Gatot, petugas polisi yang memimpin penggerebekan itu. Kesempatan dalam cinta pada pandangan pertama tak dilewatkan Gatot, nomor hape (telepon seluler) Siti telah disimpannya. Gatot pun rajin mengirim SMS walau tak pernah digubris Siti.

Beberapa hari tutup tanpa pemasukan membuat Pak Sarko, si empunya karaoke liar, kalang-kabut. Namun ia tak lekas berpangku tangan dan kehilangan akal. Dengan cermat ia menyusun sebuah rencana, berdemonstrasi ke kantor Kapolsek. Seluruh pegawainya telah ia beritahu untuk ikut serta.

Sementara itu, Siti makin gelisah tak keruan. Pak Rentenir datang memergokinya dan memberi ultimatum, hutang Bagus yang Rp5 juta harus lunas dalam tiga hari. Ia sudah hampir putus asa, hendak ke mana lagi ia mencari uang sebesar itu dalam waktu singkat. Hasil jualan peyek jingking jelas tak mampu untuk menutupnya.

Sri, teman Siti di klub karaoke telah menyampaikan maksud Pak Sarko untuk demo ke kantor Kapolsek. Dengan nakal, ia menggoda Siti bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk bertemu Mas Gatot, sang polisi tampan yang telah merazia klub karaoke mereka.

Singkat cerita, demonstrasi pemilik dan pegawai karaoke liar itu jadi juga dilaksanakan. Siti pun hadir di sana. Bapak Kapolsek menyambut baik kedatangan mereka. Ia pun berjanji akan mengembalikan peralatan sound system Pak Sarko sambil menyarankan agar ia mengurus surat perizinan usaha karaokenya.

Entah siasat apa yang dilakukan Pak Sarko, malam itu juga klub karaokenya bisa beroperasi kembali. Bahkan untuk merayakan pembukaan ini, ia mengundang tamu istimewa, Gatot sang polisi. Rekan-rekan Siti langsung menyemangatinya agar datang dan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Walau sumringah mendengar kabar tersebut, hati Siti tertegun. Keyakinan memaksanya untuk tetap setia pada Bagus, yang walau sudah tak berdaya masih menjadi suaminya yang sah. Sementara keinginannya untuk bisa lepas dari segala penderitaan dan kesulitan hidup yang dialami terus meronta dalam hatinya.

Dengan penuh kebimbangan, malam itu Siti berdandan dan mengenakan pakaian terbaiknya. Langkahnya semakin berat tatkala melihat Bagus terbaring di atas dipan sambil menatap kosong ke langit-langit bambu.

Tiba di tempat karaoke, Siti disambut dengan suasana yang berbeda. Gatot, sang arjuna, telah menunggu Siti di sana bersama dua orang temannya. Tak ingin membuang waktu, Sri langsung mengajak Siti bernyanyi sambil berjoget, melupakan segala resah. Mencari uang sambil bersenang-senang.

Paduan antara alkohol dan peliknya masalah membuat orang melarutkan diri dalam hingar-bingar musik dan sejenak melupakan pahit getirnya hidup. Malam itu, benteng pertahanan Siti mulai runtuh. Gatot yang terus berusaha mengejar Siti, akhirnya bisa meluluhkan hatinya. Apalagi Gatot telah menyampaikan keinginannya untuk meminang Siti dan bersedia membantu Siti melunasi hutang keluarganya pada bapak rentenir.

Malam itu Siti terlalu mabuk hingga tak bisa pulang sendiri, Sri dan Wati pun dengan setia mengantar sobatnya ini. Berjalan sempoyongan sambil dipapah dua orang teman memasuki rumah gedhek-nya, hati Siti berkecamuk. Ditambah lagi sakit maag akutnya yang datang mendera, tak terbayangkan apa yang dirasakan Siti.

Setelah mengoleskan minyak kayu putih di perut Siti, mereka meninggalkan Siti di kamar, terbaring di samping suaminya. Tak kuasa menahan luapan emosi, Siti menyampaikan keinginannya untuk berpisah dari Bagus. Tak dinyana, malam itu Bagus buka suara, "Lungo o Ti, lungo o! (Pergilah Ti, pergilah!)".

Bukannya senang mendapat jawaban Bagus, Siti malah berteriak sejadi-jadinya, "Assuuu kowe mas! Assuuu!" Ia kecewa...di saat-saat genting persimpangan hidupnya. Di saat ia harus memilih jalan mana yang harus diambil, Bagus malah melepaskannya dan tak ingin mempertahankan cinta mereka.

Siti menangis sejadi-jadinya. Malam itu juga ia memutuskan pergi dari rumah. Setelah ia menitipkan uang untuk membayar hutang pada si Mbok, Siti membangunkan Bagas. Ia bermaksud mengajaknya pergi. Bagas yang masih setengah terlelap, enggan mengikuti ajakan ibunya, "Sesok sekolah Bhuk! (Besok sekolah Bu!)"

Siti pun minggat (pergi) dari rumah seorang diri. Ia berlari tanpa arah dan tujuan. Napasnya pun tersenggal ketika ia berhenti di tepian pantai...

Jadwal Pemutaran Film SITI di Kineforum Taman Ismail Marzuki Jakarta


Film SITI dapat ditonton di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai hari ini 6-11 Juni 2015. Jadwal waktu pemutarannya adalah tiga kali sehari, yaitu pukul 14.15 WIB, pukul 17.00 WIB, dan pukul 19.30 WIB dengan donasi Rp10.000.

Bangkitnya Film-film Neo-Realisme


Film SITI memang membuat mata orang terbuka lebar tentang arti hidup yang sesungguhnya. Siti dan keluarganya tak pernah mengenyam kemewahan dan manisnya hidup sebagian masyarakat kota.

Sang sutradara, Eddie Cahyono seolah ingin menyampaikan pesan bahwa hidup ini bukan dongeng yang me-ninabobo-kan. Hidup ini bukan sepenggal teori yang terlontar dengan mudah dari mulut para pengkhotbah. Hidup ini adalah perjuangan.

Kadangkala, kenyataan dalam hidup tak memberikan pilihan yang mudah. Seringnya, pilihan yang tersisa sama-sama sulit untuk dijalankan.

"Itulah mengapa film SITI dibuat hitam-putih dengan rasio 4:3. Karena kehidupan Siti memang serba terbatas, tak punya banyak pilihan seperti kita," jelas Ifa Isfansyah, sang produser.

Eddie Cahyono telah berhasil mengemas realitas yang amat sederhana, dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh estetika dalam film berdurasi 88 menit ini.

Tak tanggung-tanggung, pujian buat film SITI banyak datang dari praktisi film manca negara.

"Saat saya baru menonton film ini selama sepuluh menit, saya langsung ingin bertemu sutradaranya! Buat saya dia telah berhasil menciptakan apa itu yang disebut sinema!" ujar sutradara kawakan Prancis, Pierre Rissient, saat menonton SITI di Singapore International Film Festival.

Sementara Clarence Tsui dari the Hollywood Reporter berkomentar, "Eddie Cahyono telah membuktikan bahwa matanya mempunyai anugerah untuk melihat sesuatu yang kecil-kecil dan kadang terlewatkan."

Eddie, Ifa, dan para penggagas film dari Fourcolours Films memang telah bertekad untuk selalu membuat film tentang Jogjakarta dengan segala permasalahannya, dengan anggapan bahwa film yang mereka buat akan mempunyai pijakan yang kuat, karena meng-ekspose seluk-beluk kehidupan kota yang telah membesarkan mereka.

"Di film ini saya benar-benar menemukan diri saya kembali. Banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup saya yang saya coba pertanyakan kembali kepada penonton melalui fim ini. Untuk siapa kita hidup? Dari situ cerita ini bergulir," urai Eddie.

Film SITI membuktikan bahwa untuk membuat film yang bagus tak perlu biaya yang fantastis. Yang penting adalah penggunaan elemen-elemen yang efektif dan tepat sasaran. Contohnya dari segi musik pengiring (film scoring).

Dengan latar yang amat sederhana di sebuah dusun di Parangtritis, penggunaan rebab dan kecapi, yang juga alat musik khas Jawa Tengah, sebagai musik pengiring amat tepat. Apalagi Krisna Purna, sebagai Music & Sound Director, mampu membuat aransemen tradisional yang pas dengan suasana di setiap adegan sehingga makin hidup nuansanya.

Dari segi penokohan, Sekar Sari yang memerankan Siti juga bisa dibilang berhasil sebagai seorang aktris. Dengan natural Sekar mampu menampilkan karakter Siti yang tegar sebagai ibu, sabar sebagai istri, dan luwes sebagai seorang pemandu karaoke.

Walau ini pengalaman pertamanya bermain film, ia patut mendapat acungan jempol. Atas keberhasilannya memerankan Siti, Sekar Sari beroleh penghargaan Best Performance dari Singapore International Film Festival.

Film Pinggiran yang Seharusnya Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Sudah selayaknya, masyarakat Indonesia sadar kalau selama ini mereka hanya menjadi korban kapitalisme dengan memuja film-film Hollywood.

Pemerintah seyogyanya mampu melihat fenomena ini, bahwa dalam upaya untuk mencerdaskan bangsa, salah satunya adalah dengan memberikan tontonan yang bermutu bagi generasi muda.

Memupuk budaya nonton film (film bermutu) mungkin bisa dimulai dari kampus-kampus. Tak bisa dipungkiri, mahasiswa adalah generasi muda calon penerus bangsa, yang dari segi umur telah siap untuk menerima berbagai informasi dan pengetahuan yang membutuhkan kedewasaan.

Film-film neo-realisme seperti SITI perlu mendapatkan dukungan, terutama dari segi ruang pemutaran. Karena dengan tersedianya ruang-ruang pemutaran yang permanen dan tersebar, film-film 'pinggiran' seperti SITI akan dapat menjangkau penonton yang lebih luas lagi.

Terakhir, walau bukan yang utama namun penting untuk dipikirkan, adalah keuntungan bagi para sineas-sineas muda yang begitu gigih berusaha membuat tontonan yang berbobot. Walaupun mereka tidak bertujuan mencari keuntungan secara komersial, namun mereka jelas membutuhkan imbalan yang sesuai atas hasil kerja kerasnya, agar bisa terus berkarya dan membuat film-film yang lain. [MetroTV]