Thursday, 14 July 2016

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Ini Reaksi Media dan Politisi Atas Penunjukkan Boris Johnson Sebagai Sekretaris Luar Negeri Inggris.
Berbagai media dan politisi di seluruh dunia menunjukkan reaksi mereka terhadap penunjukan Boris Johnson sebagai sekretaris luar negeri Inggris.

Banyak yang terkejut, dengan penunjukkan pria kontroversial yang terkenal dengan tindakan cerobohnya mengutip sejarah, termasuk menghina presiden Turki dan mengomentari dan merekayasa daftar keturunan presiden AS, Barak Obama.

Beberapa tanggapan itu diantaranya;  dari Amerika Serikat, surat kabar terkemuka di Amerika Serikat, The Washington Post menerbitkan rangkuman "ketidakbijaksananya" Johnson selama karir politiknua.

Penulis Washington Post, Ishaan Tharoor  mengatakan, "Johnson secara kontroversial melawan tren Barat dan memuji Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk memerangi Negara Islam, sementara ia tidak peduli dengan aksi kekerasan pada penduduk sipil di Suriah."

Sementara juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Mark Toner menyatakan hal ini akan jadi panggung jenaka hubungan kementerian luar negeri Amerika Serikat dan inggris, apalagi setelah pemimpin resmi kementerian itu memiliki 'hubungan khusus' dengan Presiden Amerika Serikat.

"Ini adalah hubungan yang melampaui personal, dan hal ini adalah sejarah yang sangat penting bagi Inggris, dan juga hubungan antara AS dan Inggris," katanya.

Sementara di Perancis, surat kabar terkemuka di negara itu, Le Figaro mengatakan  sang 'legendaris' Tuan Johnson akan  "memberikan kesan yang dipandu oleh para oportunis".

Surat kabar itu mengatakan karier politik menteri luar negeri baru ini terlihat berubah, berkaitan dengan pernikahan gay masalah Turki yang bergabung dengan Uni Eropa.

Surat kabart terkemuka Jerman, Der Spiegel mengambil garis editorial terhadap Brexit dan menerbitkan judul "TOlong Jangan pergi" untuk menggambarkan masalah baru yang akan dihadapi Inggris pasca referendum Uni Eropa-nya.

Majalah berita itu menyebut Johnson  sebagai politisi kontroversial yang mempengaruhi 52 persen suara untuk meninggalkan Uni eropa.

Wartawan Jerman, Laura Schneider menunjuk ke sejumlah kegembiraan di televisi sebagai presenter mengumumkan peran baru Johnson.

Di Rusia, Kepala komite urusan luar negeri Rusia, Aleksey Pushkov, memberikan tweet bahwa pendahulunya Johnson, Philip Hammond, memiliki masalah sosial anti-Rusia. Dan pihaknya berharap, Johnson tidak tertular dengan masalah itu.

Hammond mengatakan bahwa Rusia memiliki potensi untuk menjadi ancaman tunggal terbesar untuk keamanan Inggris dan Presiden Vladimir Putin adalah pria yang tidak patuh dan taat pada aturan perdamaian antar bangsa.

Situs berita Rusia RIA.ru memanggil Johnson sebagai politisi paling eksentrik di Inggris dan mengatakan bahwa ia adalah  pria yang penuh kejutan.

Sedangkan di Turki, Surat kabar Haber Turk menyebutkan penunjukan Johnson sebagai penghinaan terhadap Presiden  Turki.

Sementara Mantan perdana menteri Swedia, Carl Bildt, mengatakan bahwa penunjukan itu adalah sebuah lelucon. (BERITA:BBC/FOTO: