Monday, 1 August 2016

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Inilah Solusi Meredam Konflik Antar Kubu di Kwamki Lama.
Tokoh Pegunungan Tengah Papua di Mimika, Martinus WaliloSAPA (TIMIKA) – Tokoh Pegunungan Tengah Papua di Mimika, Martinus Walilo, meminta agar pemerintah dan pihak keamanan dapat meredam masalah dan konflik antar kubu yang selama ini terjadi di Distrik Kwamki Narama dengan cara mendirikan sebuah kesatuan militer. Menurut dia konflik ini bukan hal baru tetapi sudah sejak tahun 1996 lalu sampai sekarang.

“Kami tidak tau sebab apa sampai selalu ada perang begitu terus. Jadi Pemerintah Kabupaten Mimika, Provinsi, Kapolda, TNI sikap yang perlu diatasi yaitu, perang selalu muncul di Kwamki Lama, hendaklah bangun salah satu kompi batalyon untuk menciptakan keamanan di Timika secara permanen, seperti itu maka tetap aman untuk selamanya,” kata Marinus saat ditemui Salam Papua di Kelurahan Karang Senang (SP 3) Jalur II, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Sabtu (31/7).

Menurutnya, jika proses perdamaian dilakukan seperti biasa tanpa mendatangkan aparat dengan jumlah besar dan mengamankan para pemimpin perang, maka kemungkinan besar Timika belum tentu aman, karena konflik dapat dipicu dengan berbagai hal diluar dugaan. Apalagi dengan adanya dendam maka tiap tahun dipastikan akan ada perang.

“Saya berharap, kelompok perang suku di Kwamki Lama, para kepala perang, pelaku-pelaku  harus diangkap oleh TNI, Polri. Harus ada keadilan dan pembelajaran hukum. Itu yang diharapkan, tetapi kalau tidak bisa ditangkap, maka masalah ini tidak bisa berakhir pastinya terus ada peperangan sebab nantinya orang-orang yang tidak tahu dengan perang suku itu pastinya akan menjadi korban dan itu sudah terjadi, anak-anak dan mama-mama sudah menjadi korbannya,” ujar Walilo.

Pria yang juga Ketua Kerukunan Keluarga Besar Jayawijaya(KKBJ) Suku Dani Kabupaten Mimika ini menyatakan konflik yang selama ini terjadi harus ada tindakan hukum yang jelas, sehingga pelakunya dapat ditangkap dan diproses hukum.

“Kami sebagai korban merasa rugi sebab rumah masyarakat, harta kekayaan lain, ternak peliharaan pun dihancurkan. Baik itu kendaraan roda dua maupun roda empat kami minta pemerintah kabupaten maupun Provinsi agar harus ganti rugi,”tutur Walilo.

Ia menyatakan masyarakat Dani yang berasal dari Kabupaten Jayawijaya selama ini menetap dii wilayah Iliale, Distrik Kwamki Narama telah menggungsi dan tersebar diempat tempat yaitu ke Kelurahan Kebun Siri, TSM Karang Senang, Gereja Kingmi Karang Senang SP 3 Jalur II dan sebagian sudah berangkat ke Jayapura dan berkumpul di Sentani.

“Warga Dani Jayawijaya yang sudah mengungsi ini jumlahnya saya belum tau jelas, karena belum didata. Intinya mereka berasal dari tiga organisasi yang terdiri dari lima gereja. Berhubung dengan masalah, kami tidak pernah terlibat baik itu mendukung secara fisik maupun non fisik. Kami juga tidak peranah memberikan dukungan secara moril dan kami tidak tau apa-apa tentang masalah ini, tetapi dengan tiba-tiba terima serangan saja,”ungkap Walilo.

Selanjutnya, berhubung dengan para penggungsi, selama ini sudah ada bantuan suka rela dari suku-suku lain yang merasa peduli dengan peristiwa tersebut. Mereka memberikan dukungan baik itu berupa barang dan lain sebagainya. Pemerintah berikan bama melalui Dinas Sosial (Dinsos) yang ditangani langsung oleh Sekretaris Dinsos, Nius Wenda,S.Pd.M.Si, juga ada pos kesehatan serta tenaga yang siap melayani pelayanan kesehatan kepada warga penggungsian tersebut.

“Kendala yang mereka hadapi yaitu, menyangkut keamanan. Kami merasa tidak aman, kami merasa kehilangan tempat tinggal, serta semua harta kekayaan semua sudah habis,”kata Walilo. (Ervi Ruban)