Friday, 5 August 2016

14:09
Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Presiden Recep Tayyip Erdogan Minta Amerika Serikat Tangkap Fethullah Gulen.
Pemerintah Turki menyatakan akan penangkapan untuk ulama ternama Fethullah Gulen, yang bermukim di Amerika Serikat (AS). Dalam perintah penangkapan itu, Gulen dituding memerintahkan percobaan kudeta yang bertujuan untuk melengserkan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

"Memerintahkan kudeta 15 Juli," demikian potongan isi surat perintah penangkapan untuk Gulen, seperti dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, dan dilansir AFP, Jumat (5/8/2016).

Gulen yang sejak tahun 1999 tinggal di AS, menyangkal segala bentuk keterlibatan dalam percobaan kudeta pada pertengahan bulan lalu. Gulen bersikeras menyatakan pergerakan yang dipimpinnya hanya memiliki jaringan amal demi mempromosikan Islam yang toleran.

Disebutkan Anadolu, surat perintah penangkapan itu dikeluarkan oleh pengadilan Istanbul dan merupakan yang pertama dirilis untuk Gulen sejak percobaan kudeta 15 Juli lalu.

Berulang kali Turki, terutama Presiden Erdogan, menyerukan kepada pemerintah AS untuk mengekstradisi Gulen. Otoritas Turki sendiri telah mengirimkan dua dokumen kepada pemerintah AS, untuk membuktikan keterlibatan Gulen dalam percobaan kudeta.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner, menyatakan otoritas AS masih mengkaji dokumen itu untuk menentukan apakah dokumen itu memenuhi syarat sebagai permohonan resmi ekstradisi.

Sementara itu, Presiden Erdogan mengumumkan bahwa Menteri Luar Negeri AS John Kerry akan mengunjungi Turki, akhir bulan ini. "Saya pikir Menlu AS akan datang pada tanggal 21 (Agustus)," tutur Erdogan dalam wawancara langsung dengan televisi nasional Turki, TRT.

Erdogan mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk mengekstradisi ulama ternama Fethullah Gulen. Erdogan pun kesal karena Washington meminta dokumen-dokumen untuk ekstradisi ulama Turki yang bermukim di Pennsylvania, AS itu.

Padahal menurut Erdogan, Gulen jelas-jelas mendalangi upaya kudeta di Turki pada 15 Juli lalu.

"Anda pasti buta dan tuli karena tidak memahami bahwa dia di belakang semua ini," cetus Erdogan dalam wawancara dengan stasiun televisi Meksiko, Televisa seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (2/8/2016).

"Jika kami meminta ekstradisi seorang teroris maka Anda harusnya memenuhi itu," kata Erdogan. "Jika Anda mulai meminta dokumen-dokumen, maka itu hambatan besar dalam cara kami memerangi terorisme," imbuhnya.

Gulen telah mengasingkan diri di AS sejak tahun 1999. Ulama yang dulunya merupakan sekutu dekat Erdogan itu, telah membantah keterlibatan dalam upaya kudeta pada 15 Juli lalu.

Sementara itu, Menteri Kehakiman Turki Bekir Bozdag mengatakan, otoritas Turki telah mengirimkan sebuah paket dokumen-dokumen ke otoritas Amerika untuk ekstradisi Gulen.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa untuk mengekstradisi Gulen, otoritas Turki harus memberikan bukti-bukti kuat dan "bukan tuduhan" terkait musuh utama Erdogan itu.

Fethullah Gulen menanggapi surat perintah penangkapan yang dikeluarkan otoritas Turki untuk dirinya. Gulen menyebut perintah penangkapan itu menjadi bentuk keotoriteran Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Gulen yang kini berusia 75 tahun, meninggalkan Turki sejak tahun 1999 lalu. Kini, dia tinggal dalam pengasingan di Pennsylvania, AS. Dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir CNN, Jumat (5/8/2016), Gulen menyebut perintah penangkapan itu tidak akan mengubah statusnya maupun pandangannya.

"Saya berulang kali mengecam percobaan kudeta di Turki dan menyangkal mengetahui maupun terlibat," tegas Gulen.

"Sangat tercatat dengan baik bahwa sistem pengadilan Turki tidak memiliki peradilan yang independen, jadi perintah penangkapan ini merupakan contoh lain dari sifat otoriter Presiden Erdogan dan dorongan untuk menjauh dari demokrasi," imbuhnya.

Dalam dua minggu ke depan, sebut Erdogan, delegasi yang dipimpin Menteri Luar Negeri dan Menteri Kehakiman Turki akan pergi ke AS untuk menjelaskan keterlibatan Gulen dalam percobaan kudeta. Toner enggan mengomentari soal rencana kunjungan Menlu Kerry ke Turki.

Otoritas Turki telah melakukan operasi pembersihan di berbagai institusi usai kudeta yang menewaskan lebih dari 200 orang tersebut. Sekitar 18 ribu orang yang dituduh sebagai pendukung Gulen, telah ditangkap dan ribuan orang lainnya diskorsing atau bahkan dipecat dari jabatan mereka.

Langkah tersebut telah menuai kritikan dunia internasional. Namun Erdogan bersikeras bahwa langkah-langkah yang dilakukannya masih dalam koridor hukum.

Presiden Erdogan berulang kali melontarkan tudingan kepada Gulen dan menyebutnya sebagai dalang utama di balik percobaan kudeta, yang bertujuan untuk melengserkan dirinya.

Pekan ini, pengadilan Turki di Istanbul mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Gulen. Dalam perintah penangkapan itu, Gulen dituding memerintahkan percobaan kudeta pada 15 Juli lalu.

Perintah penangkapan untuk Gulen ini merupakan yang ke-9 yang dikeluarkan pemerintah Turki dalam beberapa tahun terakhir. Namun merupakan yang pertama untuk keterlibatan dalam percobaan kudeta. Perintah penangkapan lainnya untuk Gulen berisi tudingan keterlibatan dalam organisasi terorisme. (detik)