Thursday, 3 November 2016

17:33
Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Daftar Kabar Bohong atau Hoax Menjelang Demo 4 November di Jakarta.
Sejumlah kabar bohong atau hoax merebak di jejaring sosial menjelang demo massal pada Jumat, 4 November 2016 di Jakarta.

Tak jelas siapa yang memicu penyebaran kabar bohong tersebut. Namun sejumlah isu negatif dan bohong itu dalam waktu singkat menyerbu pengguna Facebook, Twitter, atau pun ke aplikasi percakapan WhatsApp.

Beberapa pesan itu pun mengundang amarah dan kebencian. Dan beberapa lainnya karena mencerna dengan baik, akhirnya pesan itu diabaikan dan tidak disebar ulang.

Berikut sejumlah kabar hoax yang sempat menyebar di jejaring sosial dan telepon seluler.

1. Teror bom 

Pekan lalu, beredar sebuah telegram palsu yang menggunakan nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Surat itu menyebut bahwa ada ancaman teror besar saat demo 4 November. Dikatakan bahwa akan ada penyiapan aksi bom disertai penembakan dan pembunuhan.

Namun demikian, kabar ini dipastikan hoax. Kepolisian tidak pernah menerbitkan imbauan apa pun terkait ancaman bom di demo 4 November 2016.

    Selamat Pagi Mitra Humas,Mohon Tidak Terprovokasi Pesan Berantai Yang Tidak Jelas Asal Usulnya. #Divhumaspolri pic.twitter.com/1VhvLCqNx4
    — Divisi Humas Polri (@DivHumasPolri) 1 November 2016

2. Pasukan China masuk Indonesia 
Sebuah pesan berantai menuliskan informasi terkait kemunculan 500 warga negara China datang ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta. Disebutkan dalam pesan itu ratusan orang asing itu hendak membela Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Dikatakan dalam pesan itu, 500 warga China itu telah ada di Terminal D Bandara Soekarno Hatta pada Jumat, 28 Oktober 2016 sekira pukul 20.15. Mereka berangkat menggunakan pesawat Cathay Pasific CX719.

"Tidak ada warga negara China. Masyarakat jangan mudah percaya dengan isu-isu yang belum tentu kebenarannya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono.
 
4. Hina Ahok, Amien Rais diperiksa polisi
Nama Amien Rais mencuat setelah dikabarkan akan diperiksa Bareskrim Polri terkait pernyataan kerasnya tentang Ahok. Di jejaring sosial bahkan muncul berita tentang instruksi Kapolri untuk menangkap dan memeriksa mantan Ketua Umum PAN tersebut. (Baca: Kapolri Pastikan Arahan Periksa Amien Rais Berita Bohong)

"Tidak ada perintah saya (periksa Amien Rais). Terutama terkait masalah Gubernur Ahok," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

    Hoax! Kapolri Perintahkan Bareskrim Segera Periksa Amien Rais Adalah Berita Bohong https://t.co/7vdRh3ulfk pic.twitter.com/HP11keM9Ax
    — Divisi Humas Polri (@DivHumasPolri) 16 Oktober 2016

Tentunya, sejumlah pesan itu masih banyak lagi dan kini mungkin bisa jadi menyebar banyak di lingkungan publik. Sejauh ini kepolisian selalu mengupaya untuk mengingatkan pengguna jejaring sosial agar berhati-hati terkait isu yang beredar di jejaring sosial.

Lewat akun Twitter resmi Mabes Polri khusus kejahatan internet @CCICMabesPolri, akun ini terus melakukan sosialisasi untuk bijak mencerna isu yang berkembang di jejaring sosial. Diharapkan dengan kebijakan publik, dapat memahami dan memilah mana informasi yang baik dan layak untuk kemudian dibagikan kembali.

4. 17 Polda Siaga di Jakarta
Beredar surat telegram dari Kapolri kepada 17 Kapolda yang memuat perintah menggeser personel Brimob di berbagai daerah untuk mengamankan unjuk rasa pada 4 November nanti. Namun Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menyatakan surat telegram itu adalah kabar bohong (hoax).

"Oh tidak ada. Hoax itu, hoax, hoax, iya," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Boy Rafli Amar di Markas Polda Metro Jaya, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (29/10/2016) malam.


Dia memastikan tak ada penarikan personel dari daerah-daerah luar Jakarta ke daerah Polda Metro Jaya. Beredar di kalangan wartawan, surat telegram yang dimaksud adalah bernomor STR/779/X/2016. Namun Boy sendiri sebenarnya juga belum melihat wujud surat itu.

"Belum lihat saya. Nanti saya tanya dulu ya," kata Boy.

Surat Telegram Kapolri yang hoax itu memuat perintah lisan Kapolri kepada Asops Kapolri hari Kamis (27/10) kemarin untuk menggeser personel Brimobda ke Polda Metro Jaya menghadapi rencan unjuk rasa 4 November 2016. Diinfokan, dalam Surat Telegram itu, pada 4 November akan terjadi unjuk rasa gerakan ormas menyikapi pernyataan dengan dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di wilayah Polda Metro Jaya.

Surat Telegram itu menyatakan permintaan pengiriman personel Brimob Polri dari satu Brimob Polri dan 16 Polda dengan kemampuan pasukan huru-hara.

Bila surat telegram itu adalah surat hoax, lain halnya dengan Nota Dinas Nomor B/ND-35/X/2016/Korbrimob. Nota Dinas ini dinyatakan bukan hoax. Nota Dinas ini ditandatangani oleh Wakil Komandan Korps Brimob Polri, Brigjen Pol Anang Revandoko, memuat pemberitahuan kondisi Siaga I sejak 28 Oktober kemarin.

5. Satu kata yang mengubah arti

Satu kata bisa mengubah arti. Itu yang tercermin dalam sebuah hoax yang tersebar di media sosial. Seseorang mengambil berita Kompas.com dan mengganti satu kata dalam judul sehingga membuat artinya menjadi sama sekali lain. Bandingkan:

    ASLI - Ahok: Kamu kira kami BOHONG bangun masjid dan naikkan haji marbut?
    PALSU - Ahok: Kamu kira kami NIAT bangun masjid dan naikkan haji marbut?

Artikel asli berisi pernyataan Ahok yang mengklaim bahwa program-programnya pro umat Islam. Anda bisa membacanya di sini.

6. Jabat tangan Ahok dan Habib Rizieq
Foto Habib Rizieq yang berjabat tangan dengan Ahok ini adalah foto editan yang diolah oleh seorang 'seniman Photoshop' bernama Agan Harahap yang memang dikenal dengan editan-editan foto tokoh terkenal dari aktris Angelina Jolie, Kim Kardashian, hingga petinju terkenal Filipina Manny Pacquiao.

Dia mengunggah foto editan itu dalam akun Facebook-nya dan mendatangkan reaksi yang beragam. Orang-orang yang rajin mengikuti karyanya langsung mengerti bahwa itu adalah editan yang disengaja.

"Damai dunia," kata satu pengguna. Tapi ada juga yang menganggapnya sangat serius. "Berhentilah hasut dan fitnah. Tambah ngerusak bangsa," kata yang lain.

7. 'Jakarta hari ini, media bungkam'

Tidak jelas siapa yang pertama kali mengunggahnya, tetapi pada 11 Oktober 2016 sebuah gambar unjuk rasa besar muncul dengan keterangan ''Jakarta hari ini... media bungkam''. Pesan ini dibagikan dari satu akun ke lainnya, dari Facebook, Twitter, hingga WhatsApp - mempertanyakan mengapa media tidak meliput demonstrasi soal Ahok yang sangat besar ini?

Apa yang awalnya adalah satu unggahan di internet, dalam beberapa jam telah berlipat ganda.

Namun apa yang salah dari pesan itu? Nyatanya, tidak ada demonstrasi besar pada 11 Oktober terkait Ahok di Jakarta. Foto yang ditampilkan tampaknya adalah foto yang dicatut dari demonstrasi beberapa waktu sebelumnya - juga terkait Ahok.

Demonstrasi memang terjadi, tiga hari kemudian, pada 14 Oktober 2016. Tapi berita bohong tentang 'media yang alpa meliput peristiwa besar' sudah terlanjur tersebar di dunia maya. Siapa yang dirugikan?

8. Penuh atau sepotong?


Ini bukan termasuk kabar bohong, tetapi video yang diunggah Buni Yani terkait Ahok yang mengutip surat Al-Maidah memicu debat terkait apakah sebuah pesan bisa memiliki arti beda ketika dikutip sepotong-sepotong.

    Dalam video yang diunggah Buni Yani, video dimulai di tengah kalimat. ''.....bapak/ibu gak bisa pilih saya, ya kan karena dibohongin pakai surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu.''
    Dalam video yang utuh, kalimat lengkapnya adalah: ''Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu.''

Polisi mengatakan bahwa Buni Yani tidak terbukti melakukan pengeditan atas video -seperti yang banyak dituduhkan. Dalam Facebook-nya, Buni Yani mengklaim dirinya telah menjadi sasaran teror setelah mengunggah video tersebut. Hingga kini, perbincangan terkait 'pengunggahan video yang sepotong-potong' masih ramai didebatkan. (detik/viva/bbc)