Thursday, 3 November 2016

17:08
Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Jelang Unjuk Rasa 4 November, Diantara Isu dan Hoax.
Menjelang aksi unjuk rasa 4 November 2016 besok, sejumlah orang orang dari luar daerah mulai mendatangi kawasan Masjid Istiqlal, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016).

Ustad Abu Sauqi, sala satu warga dari Sumatra Utara, mengaku datang ke Jakarta dengan maksud untuk mengikuti aksi unjuk rasa guna mendesak pihak kepolisian untuk menindak Basuki Tjahja Purnama (Ahok) terkait kasus dugaan penistaan agama.

"Saya datang bersama saudara kesini untuk bergabung bersama saudara-saudara muslim lainnya untuk menunaikan panggilan keimanan," kata Sauqi, di Masjid Istiqlal, (3/11/2016).

Sementara itu, Agus Widodo warga Solo, Jawa Tengah, mengatakan kedatangan mereka atas inisiatif sendiri dan tidak dibiayai oleh siapapun.

"Kita ada 9 orang dari Solo datangnya naik kereta. Semuanya teman karena memang kita suka dolan (jalan-jalan)," ujarnya.

Walaupun mendukung pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tanpa unsur SARA,  santri-santri Gerakan Santri Nusantara, dipersilahkan bila hendak ikut demo pada 4 November mendatang.

Ketua Gerakan Santri Nusantara, Muhammad Utomo, mengatakan pihaknya sangat menghargai demokrasi, termasuk aspirasi santri yang berpendapat bahwa ribuan umat Islam harus kembali turun ke jalan.

"Silahkan, teman teman yang mau ikut turun silahkan," ujarnya kepada wartawan, usai acara deklarasi pilkada tanpa SARA, di sebuah restoran, di Jakarta Selatan, Jumat (28/10/2016).

Muhamad Utomo menyebut yang tidak diinginkan adalah konflik horizontal. Hal tersebut harus dihindari, dan para santri harua bisa ikut andil menciptakan demokrasi yang damai, sembari menjaga persatuan bangsa.

Sejumlah orang yang mengaku dari berbagai wilayah telah tiba di Jakarta, Kamis (03/11), untuk mengikuti demontrasi menuntut penyelesaian hukum kasus dugaan penistaan agama dengan terlapor Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Jumat besok.

Seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Pijar Anugerah, sebagian mereka berkumpul di masjid Al Islah di dekat markas Front Pembela Islam, FPI di kawasan Petamburan, Jakarta, dan beberapa tempat lainnya - diantaranya masjid Istiqlal.

Mereka mengaku datang dari Yogyakarta, Solo dan Aceh dengan menggunakan biaya sendiri. Sejumlah laporan menyebut ada pula yang datang dari Bandung, Medan dan Lombok, NTB.

Salah-seorang di antaranya, Usman, mengaku datang dari kota Solo, Jawa Tengah. Ditemui tengah duduk santai di dalam masjid, Usman mengaku rombongannya naik empat bus ke Jakarta.

"Kami gabungan jemaah masjid di beberapa wilayah," katanya.

Ditanya apakah dirinya sudah mengetahui seperti apa persiapan unjuk rasa pada Jumat besok, Usman mengatakan: "Belum tahu teknis besok, kita ikut aja."

Pria yang memelihara jenggot ini mengaku ikut demo atas "inisiatif sendiri, ongkos sendiri". "Masing-masing peserta iuran Rp200 ribu," ungkap Usman.

Dihubungi secara terpisah, juru bicara Gerakan nasional pengawal fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), Munarman mengatakan, jumlah peserta yang sudah berkumpul di Jakarta telah mencapai 200.000.

"Semuanya sudah terdata. Kami pegang fotokopi KTP-nya," kata Munarman saat dihubungi wartawaan BBC Indonesia, Pijar Anugerah melalui sambungan telepon, Kamis (03/10) pagi.

Mereka berasal dari berbagai provinsi, "ada yang datang dari Aceh, Sulawesi, Makassar..." tambahnya.

Menurut Munarman, peserta menginap di "semua titik yang sudah ditentukan" yang jumlahnya lebih dari 150 titik. "Termasuk sejumlah masjid atau musala yang menawarkan akomodasi gratis," tambahnya.

"Peserta diharapkan bergerak sendiri ke titik awal demo, di Istiqlal dan Jl. Medan Merdeka Barat," lanjut Munarman.

Sementara, seseorang yang mengaku bernama Nurdin mengaku datang dari Yogyakarta. "Rombongan saya ada 49 orang. Kami dari 10 masjid yang berbeda," katanya.

Dia mengaku mengikuti unjuk rasa, karena "terpanggil sebagai sesama (Islam) bersaudara... Melawan pelecehan terhadap kitab suci kita," tegasnya.

Di dekat markas FPI, seorang pria bernama Ahmad Shanjy, yang ditemui BBC, mengaku sebagai Panglima daerah FPI wilayah Aceh.

Menurutnya, rombongan FPI Aceh yang telah tiba di Jakarta berjumlah 600 orang. Mereja menginap di wilayah Petamburan 100 orang dan 500 orang di masjid Istiqlal.

"Ada juga yang menginap di rumah warga Aceh yang bekerja di Jakarta," ungkapnya. "Akomodasi disediakan panitia dari mabes FPI."

Dia menambahkan, masih ada 200 orang asal Aceh yang dalam perjalanann menuju Jakarta.

"Habis sholat Ashar, kita akan jalan ke Istiqlal, nanti malam menginap di sana," ungkap Ahmad.

Lebih lanjut dirinya mengaku telah menghabiskan Rp2 juta untuk ongkos perjalanan ke Jakarta. "Tapi saya nggak tahu bakal pulang kapan".

Rencananya unjuk rasa mulai digelar dari masjid Istiqlal menuju depan Istana Merdeka, Jakarta, usai sholat Jumat pada 4 November 2016.


Pesan Jokowi dan Prabowo

Presiden Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan khusus di kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Senin (31/10/2016).

Usai pertemuan, kedua tokoh Indonesia itu menunggangi kuda-kuda khusus yang telah disiapkan Prabowo.

Ketika ditanya apakah  terkait rencana unjuk rasa Ormas Islam pada Jumat, 4 November 2017, Prabowo berharap unjuk rasa agar berjalan baik, tidak anarkhis, dan tetap menjaga suasana yang kondusif dan sejuk.

Isu dan Hoax


Kabar bohong atau hoax beredar di dunia maya, disebar dari satu akun ke akun lain, berpindah dari Facebook ke Twitter, Twitter ke WhatsApp grup, dan dalam beberapa jam - tanpa diketahui siapa yang pertama menyebarnya - pesan itu telah mengundang amarah atau rasa takut pengguna.

Ini adalah kekhawatiran yang muncul belakangan, terutama setelah Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dituding melakukan penistaan agama - sebuah tuduhan masih diselidiki oleh kepolisian.

Tapi pengamat media sosial Nukman Luthfie kepada BBC Indonesia mengatakan, ''(kabar-kabar bohong) itu bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan secara berlebihan. Sekadar khawatir iya, makanya pemerintah harus bertindak, karena tetap saja masih bisa ada yang bisa termakan,' katanya.

''Tapi tidak usah berlebihan, karena orang-orang yang sehat di media sosial itu banyak, mereka yang akhirnya menentramkan sendiri, tidak usah pusing.''

Ini bukan pertama kali dan bukan yang paling keras fitnahnya, kata Nukman. ''Sosial media juga tidak seheboh yang kemarin karena orang sudah belajar, mana yang hoax, mana yang editan, dan mana akun palsu, bagaimana cara informasi yang benar. Jadi walau ada yang main-main di situ (membuat berita hoax) tidak ada gunanya. Dibantah juga sudah selesai. Tidak mempan lagi.''
Sementara itu di samping maraknya pembicaraan terkait aksi demo  tersebut beredar pesan berantai atau broadcast yang menyatakan ada panggung hiburan berisi artis-artis cantik yang nantinya digelar di beberapa titik di ibu kota bertepatan dengan aksi demo jilid II. Yakni, di Silang Monumen Nasional, Halaman Sarinah, Taman Semanggi, dan eks Pasar Benhil.

Pilih Demo atau Lucky Draw
Rencananya, akan buka panggung hiburan. Menampilkan artis cantik dan boyband terkemuka di 4 titik:

1. Silang Monas
2. Halaman Sarinah
3. Taman Semanggi
4. Eks Pasar Benhil

Acaranya: selain menampilkan para penyanyi dan band terkenal, juga ada sejumlah komedian. Juga akan diundi Lucky draw dengan hadiah menarik:

1. Mobil Mini Cooper 4 buah
2. Mobil Avanza 4 buah
3. Sepeda motor Honda 50 buah
4. Ribuan hadiah hiburan lainnya.

KITA LIHAT AJA NANTI, MASA PILIH KE DEMO ANTI AHOK ATAU KE PANGGUNG HIBURAN INI.

Menanggapi hal di atas, Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyanto mengaku belum mengetahui informasi tersebut dan masih melakukan pengecekan. Mengingat sejauh ini belum ada laporan terkait adanya acara panggung hiburan yang bakal digelar saat aksi demo 4 November 2016 mendatang.

“Kita belum tahu soalnya belum ada laporannya,” ujar Suyatno, Rabu (2/11).
 
Palsu: aksi bom, penembakan, pembunuhan
Pesan ini setidaknya beredar di WhatsApp dan Facebook, diklaim berisi arahan wakil komandan Brimob kepada intelijen dan pengamanan internal terkait pengamanan unjuk rasa besar yang rencananya dilakukan 4 November mendatang.

Isinya cukup mengkhawatirkan, menjabarkan kemungkinan kerusuhan dibeberapa titik seperti di Balai Kota, Monas, Bekasi, Tangerang, dan lainnya. Juga memuat adanya 'pelaku teror yang menyiapkan aksi bom, penembakan, dan pembunuhan dengan sasaran kantor kedutaan' dan 'rencana penyerangan ke perumahan elite dan mal'.

Nyatanya? Ini hanya karangan belaka, kata polisi. Kepolisian telah mengeluarkan pengumuman di Twitter resmi mereka dan menegaskan kabar tersebut bohong belaka. "Jangan dipercaya," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Boy Rafli Amar kepada wartawan.

Satu kata yang mengubah arti

Satu kata bisa mengubah arti. Itu yang tercermin dalam sebuah hoax yang tersebar di media sosial. Seseorang mengambil berita Kompas.com dan mengganti satu kata dalam judul sehingga membuat artinya menjadi sama sekali lain. Bandingkan:

    ASLI - Ahok: Kamu kira kami BOHONG bangun masjid dan naikkan haji marbut?
    PALSU - Ahok: Kamu kira kami NIAT bangun masjid dan naikkan haji marbut?

Artikel asli berisi pernyataan Ahok yang mengklaim bahwa program-programnya pro umat Islam. Anda bisa membacanya di sini.

Jabat tangan Ahok dan Habib Rizieq

Foto Habib Rizieq yang berjabat tangan dengan Ahok ini adalah foto editan yang diolah oleh seorang 'seniman Photoshop' bernama Agan Harahap yang memang dikenal dengan editan-editan foto tokoh terkenal dari aktris Angelina Jolie, Kim Kardashian, hingga petinju terkenal Filipina Manny Pacquiao.

Dia mengunggah foto editan itu dalam akun Facebook-nya dan mendatangkan reaksi yang beragam. Orang-orang yang rajin mengikuti karyanya langsung mengerti bahwa itu adalah editan yang disengaja. "Damai dunia," kata satu pengguna. Tapi ada juga yang menganggapnya sangat serius. "Berhentilah hasut dan fitnah. Tambah ngerusak bangsa," kata yang lain.

'Jakarta hari ini, media bungkam'

Tidak jelas siapa yang pertama kali mengunggahnya, tetapi pada 11 Oktober 2016 sebuah gambar unjuk rasa besar muncul dengan keterangan ''Jakarta hari ini... media bungkam''. Pesan ini dibagikan dari satu akun ke lainnya, dari Facebook, Twitter, hingga WhatsApp - mempertanyakan mengapa media tidak meliput demonstrasi soal Ahok yang sangat besar ini?

Apa yang awalnya adalah satu unggahan di internet, dalam beberapa jam telah berlipat ganda.

Namun apa yang salah dari pesan itu? Nyatanya, tidak ada demonstrasi besar pada 11 Oktober terkait Ahok di Jakarta. Foto yang ditampilkan tampaknya adalah foto yang dicatut dari demonstrasi beberapa waktu sebelumnya - juga terkait Ahok.

Demonstrasi memang terjadi, tiga hari kemudian, pada 14 Oktober 2016. Tapi berita bohong tentang 'media yang alpa meliput peristiwa besar' sudah terlanjur tersebar di dunia maya. Siapa yang dirugikan?

Sebanyak 500 orang dari Cina datang dukung Ahok?
Kabar yang tersebar akhir Oktober ini masih banyak ditemukan di internet. Isinya seakan-akan seperti laporan via WhatsApp antara anggota polisi dan komandannya terkait kedatangan ''pasukan Cina yang (akan) menghadapi demo bela Islam untuk membela Ahok''. Polisi telah menegaskan berita ini tidak benar.

'Polisi periksa Amien Rais'

Dalam kabar yang tersebar di dunia maya, Kapolri disebut akan melakukan pemeriksaan terhadap Amien Rais, politisi dan mantan ketua MPR, yang menunding Presiden Joko Widodo melindungi Ahok. Beredar juga foto berisi poin-poin 'arahan kapolri' yang salah satunya meminta adanya 'penggalangan tokoh-tokoh pro-Ahok agar tetap membela Ahok'.

"Berita bohong," kata Kepala Bareskrim Polri Ari Dono Sukmanto kepada BBC Indonesia. "Masih kita selidiki." Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Penuh atau sepotong?


Ini bukan termasuk kabar bohong, tetapi video yang diunggah Buni Yani terkait Ahok yang mengutip surat Al-Maidah memicu debat terkait apakah sebuah pesan bisa memiliki arti beda ketika dikutip sepotong-sepotong.

    Dalam video yang diunggah Buni Yani, video dimulai di tengah kalimat. ''.....bapak/ibu gak bisa pilih saya, ya kan karena dibohongin pakai surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu.''
    Dalam video yang utuh, kalimat lengkapnya adalah: ''Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya, enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu.''

Polisi mengatakan bahwa Buni Yani tidak terbukti melakukan pengeditan atas video -seperti yang banyak dituduhkan. Dalam Facebook-nya, Buni Yani mengklaim dirinya telah menjadi sasaran teror setelah mengunggah video tersebut. Hingga kini, perbincangan terkait 'pengunggahan video yang sepotong-potong' masih ramai didebatkan. (inilah/tribun/tempo/bbc)