Monday, 22 April 2019

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Meski Terindikasi, ISIS Belum Mengaku Terlibat dalam Bom Paskah di Sri Lanka. Meski Terindikasi, ISIS Belum Mengaku Terlibat dalam Bom Paskah di Sri Lanka
KOLOMBO, LELEMUKU.COM - Kelompok teroris ISIS belum menyatakan terlibat dalam serangan teror di tiga gereja, tiga hotel mewah dan 2 tempat publik di Sri Lanka pada Hari Paskah, Minggu (21/04/2019) yang menewaskan setidaknya 215 orang tewas dan melukai 450 orang.

Dari akun telegram Amaq, kantor berita mereka pada Senin (22/04/2019), kelompok tersebut hanya mempublikasikan aktivitas serangan teror mereka ke chekpoint di Buraidah, Arab Saudi pada Juli 2018 lalu dan serangan bom bersama pembunuhan direktur investigasi di markas keamanan negara di Zulfi, Riyadh pada 2016 melalui 2 video dengan menyatakan bahwa serangan-serangan mereka ini adalah aksi balas dendam kepada Yahudi dan Kristen serta lainnya.

"Kami membalaskan dendam dari saudara-saudara kami yang sudah diambil sebagai tahanan di al-Baghouz dan di Irak dan Suriah dan dimana saja," ungkap video tersebut.

Namun demikian, beberapa simpatisan ISIS di grup chat menyatakan bahwa serangan teror bom di Sri Lanka merupakan balasan atas serangan teror yang terjadi pada 2 masjid di Christchurch, Selandia Baru.

"Serangan ini sama seperti pembantaian di masjid-masjid kami, ini adalah pembalasan untuk tiap mata untuk mata, dan gigi untuk gigi," tulis salah satu simpatisan dalam chat tersebut.

Menurut situs analisis kelompok teroris, SiteIntel, grup chat di telegram ini menyatakan bahwa langkah besar untuk simpatisan ISIS di Sri Lanka, sebab kelompok yang awalnya menguasai wilayah Filipina dan Indonesia di Asia Tenggara mulai terdesak dengan sikap tegas pemerintahnya.

Dikatakan, jaringan online ISIS sedang mengencarkan translate bahasa Tamil guna mempromosikan aktivitas teror mereka. Sebagai upaya merekrut simpatisan baru guna melakukan aksi tidak terpuji yang mereka lakukan selama ini.

Kepolisian Sri Lanka sendiri telah menahan 7 orang terkait peristiwa ini, namun belum menyatakan identitas  serta afiliasi dari para pelaku teror. Pihaknya menyatakan masih mendalami motif dari serangan bom tersebut sebab belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab.

Sementara kelompok Pembebasan Macan Tamil Eelam tidak menyatakan bertanggung jawab atas serangan ini, sebab pola teror kepada umat minoritas di negara itu tidak pernah dilakukan oleh pihaknya kepada pemerintah yang mayoritas beragama Budha tersebut.

Hal ini diperkuat dengan laporan Badan Intelijen India (NIA) yang menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi beberapa nama figur ISIS yang baru saja daang dari Timur Tengah ke India yang melarikan diri dari Hyderabad dan Kerala guna menyebarkan pengaruh mereka di Sri Lanka.

“Dari polanya, serangan itu adalah ciri khas klasik dari ISIS. Serangan kolektif kepada warga komunitas tertentu dengan menggunakan bahan peledak. Selama ini pemerintah India dan Sri Lanka telah bekerja sama untuk mencari sumber utama para pelaku. Dan kami yakin ISIS dibalik serangan ini, namun secara forensik kami masih harus menggalinya secara objektif, jenis peledak dan semua rincian dari insiden ini," ungkap pejabat tinggi intelejen India yang tidak ingin disebut namanya.

Ditegaskan, serangan ini adalah upaya promosi ISIS yang khas, yakni menyerang pada momen-momen yang dapat mencuri perhatian dunia, yakni masa Paskah yang memiliki kumpulan pengikut agama yang tidak diamankan oleh aparat keamanan.

"Kami baru tahu jika mereka sudah matang merencanakan serangan ini, namun kami tidak tahu siapa yang melakukannya. Banyak sekali anak muda dari India dan Indonesia yang sudah didoktrin ajaran ISIS untuk melakukan serangan seperti ini. Sehingga kami belum bisa memutuskan siapa dibalik serangan ini," papar dia.

Serangan yang terjadi pada Minggu pagi itu menyerang 3 gereja yakni Gereja St. Anthony Kochikade Kolombo pada pagi hari, menyusul kemudian di Gereja St. Sebastian Katuwapitiya Negombo dan terakhir di Gereja  Batticaloa; 3 hotel di Kolombo yang juga diserang teror ini adalah Shangri La hotel, Cinnamon Grand Hotel dan Kingsbury Hotel; serta 2 tempat publik yang diserang bom adalah Kebun Binatang di Dehiwala dan kompleks perumahan di Jalan Mahavila Udyana, Dematagoda. Sementara itu 1 bahan peledak berhasil dijinakkan Angkatan Udara Sri Lanka di Jalan Aadiambalama di Bandara Internasional Bandaranayake, Kolombo.

Kepolisian menyatakan ledakan-ledakan tersebut menghancurkan beberapa bagian dari bangunan tersebut. Lantainya dipenuhi campuran genteng, serpihan kayu dan darah. Beberapa orang terlihat berlumuran darah, dengan beberapa berusaha membantu mereka yang mengalami cedera lebih serius.

Kementerian Kesehatan Srilanka menyatakan 73 orang meninggal dan 260 terluka di National Hospital, 2 meninggal dan 6 terluka di Kalubowila Hospital, 104 meninggal dan 100 terluka di Negombo Hospital, 7 meninggal dan 32 terluka di Ragama Hospital, dan 28 meninggal 51 terluka di Batticaloa Hospital.

"Sekitar 35 warga asing juga menjadi korban dari ledakan bom ini dengan kebangsaan Amerika Serikat, Denmark, China, Jepang, Pakistan, Maroko, India dan Bangladesh," ujar kementerian Kesehatan Srilanka dalam rilis mereka di twitter.

Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, dalam pidatonya mengatakan dia terkejut dengan ledakan tersebut dan meminta warganya untuk tetap tenang.

"Saya mengutuk keras serangan pengecut terhadap rakyat kita hari ini. Saya menyerukan kepada semua orang Sri Lanka selama masa tragis ini untuk tetap bersatu dan kuat. Harap hindari menyebarkan laporan dan spekulasi yang tidak diverifikasi. Pemerintah mengambil langkah segera untuk mengatasi situasi ini," ungkap Presiden Sri lanka melalui Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe di twitter.

"Pertemuan darurat dilakukan dalam beberapa menit. Operasi penyelamatan sedang berlangsung," Menteri Reformasi Ekonomi dan Distribusi Publik Sri Lanka, Harsha de Silva, mengatakan dalam sebuah tweet.

Mayoritas dari 23 juta penduduk Sri Lanka beragama Buddha dengan persentasi hingga 70%. Sementara Hindu sekitar 13%, selanjutnya Muslim 10% dan Kristen sekitar 7%. (Albert Batlayeri)