Friday, 5 April 2019

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Penculikan Bupati Nduga, Yarius Gwijangge Merupakan Fitnah Tak Berdasar. JAYAPURA, LELEMUKU.COM - Kodam Cenderawasih menanggapi artikel yang berjudul  “Bupati Nduga Diculik TNI” yang berisi berita yang mengklaim informasi detail bagaimana proses penculikan seorang tokoh penting di Provinsi Papua yaitu Bupati Nduga Yarius Gwijangge pasca kunjungan Presiden Ri Joko Widodo (Jokowi) ke Jayapura. Berita ini sangat menggemparkan di media sosial (Medsos) dengan

Kepala Penerangan (Kapendam) XVII/Cenerawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi menyatakan berita ini merupakan fitnah tak berdasar, sebab menurut pembuat berita bahwa berawal dari kegiatan Jokowi melaksanakan pertemuan tertutup di Hotel Aston Jayapura pada Senin (01/04/2019) saat Bupati Nduga mengajukan permintaan kepada Presiden untuk menarik anggotanya.

“Tolong bapa Presiden tarik kembali pasukan yang Bapak kirim di Nduga, pinta Bupat. Presiden menanggapi permitaan tersebut dan mengatakan, Saya tidak tahu kalau itu ada operasi militer di Nduga,  maka saya akan perintahkan pasukan tarik kembali, supaya Masyarakat kembali pulang ke kampung masing-masing," kutip Aidi dalam rilis yang diterima Lelemuku.com (05/04/2019).

Kapendam melanjutkan, artikel itu mengungkapkan akibat permintaan Bupati kepada Presiden, maka pada Pada tanggal 02 April 2019, pagi sekitar pukul 09.00 wit,  Bupati dan rombongannya yang sedang siap-siap untuk menuju ke Timika selanjutnya ke Nduga, tiba-tiba dihadang dan diculik oleh seorang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopasus) dari Kodam Cenderawasih Papua atas nama Kapten Inf. Ashari Bin Andi Pasanrangi, SE, selanjutnya dibawa ke Kodam.

"Ini jelas fitnah yang sangat tidak mendasar. Bila dicermati akan ditemukan keanehan antara lain bahwa dalam rangkaian kujungan Presiden RI tanggal 01/04/2019 kemarin Presiden Jokowi tidak pernah ke Hotel Aston apalagi melaksanakan pertemuan tertutup dengan Bupati Nduga di hotel tersebut. Media telah mempublikasikan rangkaian kegiatan Presiden dari mana dan ke mana sertak kegaiatan apa yang dilakukan secara detail dalam pengawalan yang sangat ketat, yang jelas tidak ada agenda ke Aston. Keanehan berikutnya bahwa tidak pernah ada satuan di lingkungan TNI yang disebut Kopassus Kodam Cenderawasih. TNI adalah institusi yang sangat tertib memiliki data base elektronik personel yang sangat lengkap dan rapih, siapapun pihak berwewenang yang menanggapi informasi tersebut dapat mengecek dan memastikan bahwa tidak ada anggota TNI termasuk di Kodam XVII/Cenderawasih yang bernama Kapten Inf. Ashari Bin Andi Pasanrangi, SE dengan NIP 11980019821171," papar Aidi.

Dikatakan sangat tidak masuk akal bila hanya satu orang yang mampu menculik seorang tokoh besar setingkat Bupati Yarius Gwijangge dilaksanakan pada siang hari ditengah-tengah keluarga dan rombongan pengawalan yang ketat.

"Keanehan selanjutnya bahwa seorang bupati bukanlah seperti anak kecil yang dapat dijadikan objek berita dan tidak bisa diklarifikasi kebenarannya. Apalagi diberitakan bahwa Bupati sempat memberontak tapi tidak berdaya dan langsung dibawah oleh penculiknya. Bila dibayangkan berarti penculik tersebut memiliki kemampuan seperti tokoh fiktif Supermen atau tokoh superhero lainnya. Artinya siapun bisa mengklarifikasi langsung kepada YG apakah benar beliau diculik sesuai dengan laporan si pembuat fitnah," ungkap dia.

Fakta yang sebenarnya bahwa pada Selasa (02/04/2019) Bupati Nduga Yariius Gwijangge di dampingi oleh bawahannya Andi Ashari yang merupakan mantan kepala Kesbangpol Nduga dan dikawal oleh ajudan dan tiga orang keluarga bupati. Mereka diantar oleh sopir dengan menggunakan kendaraan pribadi milik Yarius Gwijangge guna bersilaturrahmi ke dirinya karena memiliki hubungan yang sangat dekat karena pernah menjadi Dandim 1702/Jayawijaya yang memiliki wilayah operasi hingga kabupaten tersebut dan secara otomatis menjadi anggota Forkopinda Kabupaten Nduga.

"Silaturrahmi Bupati Yarius Gwijangge bukanlah kali pertama dilakukan, sebagai wujud kedekatan karena pernah menjadi mitra kerja yang harmonis dalam tugas membangun Kabupaten Nduga. Sedangkan Andi Ashari adalah mantan kepala Kesbangpol Kabupaten Nduga dan selama 7 tahun telah menjadi bawahan Yarius Gwijangge yang sangat setia, sehingga hubungan mereka sudah seperti anak dan bapak. Andi Ashari juga yang telah berjasa membantu Bupati dalam proses pembentukan Kabupaten Nduga," kata dia.

Kapendam menyatakan, saat silaturrahmi dengan Yarius Gwijangge, Andi Ashari sempat mengungkapkan  bahwa selama menjadi anak buah Bapak Bupati, yang bersangkutan tidak pernah meminta uang sepeser pun diluar dari haknya sebagai pegawai.

"Tetapi beliau selalu berusaha bekerja maksimal memberikan dukungan membantu Bupati dalam bebagai kesulitan selama proses mendirikan dan membangu Kabupaten Nduga," kata dia.

Ia menyatakan isu penculikan terhadap Bupati Yairus Gwijangge, sudah diklarifikasi langsung oleh Presiden Badan Pelayanan Pusat Gereja-gerja Baptis Papua (PGBP) Dr. Socratez S. Yoman sebagai tokoh Papua yang menegaskan bahwa Bupati Yarius Gwijangge tidak pernah duculik. Hal senada juga disampaikan oleh Theo Hasegem yang merupakan pekerja kemanusiaan Papua dengan menegaskan bahwa setelag mendapat informasi tersebut, ia telah bertemu langsung dengan Bupati Nduga dan sama sekali tidak mengatakan bahwa dirinya telah diculik oleh TNI.

Aidi menyatakan saat dikonfirmasi, Andi Ashari menyampaikan bahwa akan mencari pelaku penyebar fitnah dan akan menempuh jalur hukum karena telah mencemari nama baiknya.

"Menurut Andi bahwa yang bersangkutan telah mengklarifikasi langsung ke Bupati tentang info tersebut. Bupati Nduga sangat marah mendengar adanya info tersebut dan berjanji akan mencari pelaku dan akan dipolisikan dalam rangka proses dan penegakan hukum," kata dia.

Kapendam juga menyatakan dengan munculnya berita yang sangat menghebohkan dan menuai berbagai tanggapan dari para netizen ini, harusnya bisa dicerna dengan nalar sebab ini adalah informasi yang mencoba mengganggu kedamaian di Papua dan Indonesia pada umumnya.

"Sekaligus dengan mudah kita bisa melihat dan membedakan yang mana netizen yang tak bernalar, tidak tidak berwawasan dan tampa menggunakan logika yang dengan mudahnya menerima suatu informasi tampa dicerna, dianalisis dan dicross cek kebenarannya. Tapi bagi netizen yang berpendidikan tinggi, memiliki nalar dan wawasan yang luas, sepintas saja membaca informasi tersebut sudah mampu menyimpulkan bahwa berita ini adalah hoax dan menyesatkan. Dan sudah dapat diperkirakan juga bahwa apabila pelaku penebar fitnah ini tertangkap oleh aparat penegak hukum, maka mereka kelompok para netizen yang tidak bernalar dan tidak berwawasan tadi akan ramai-ramai memperotes kepada aparat penegak hukum yang akan dituduh telah melakukan kriminalisasi terhadap pelaku yang nyata-nyata telah melakukan tindakan kriminal dan dapat dijerat Undang-undang ITE," tegas dia. (Albert Batlayeri)