Saturday, 7 December 2019

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Meski Ada Insiden Mikrofon, NATO Puji Kemajuan Konferensi Tingkat Tinggi di London. Meski Ada Insiden Mikrofon, NATO Puji Kemajuan Konferensi Tingkat Tinggi di LondonLONDON, LELEMUKU.COM - Para pejabat Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau North Atlantic Treaty Organization (NATO) bersikeras mengatakan, kemajuan baik tercapai pekan ini pada KTT di London yang bertepatan dengan peringatan 70 tahun aliansi itu, sementara para pemimpin negara mengukuhkan komitmen mereka untuk bersama-sama mempertahankan diri dalam menghadapi agresi Rusia. Namun, KTT itu kemungkinan akan dikenang sebagai peristiwa yang menunjukkan adanya perpecahan dalam hubungan antar para pemimpin aliansi itu.

Senyum dan jabat tangan mewarnai foto keluarga NATO. Para pemimpin negara yang menjadi anggota aliansi itu terlihat rukun dalam jepretan kamera, namun – menurut banyak pakar – dalam realitas sesungguhnya, hubungan mereka semakin mengalami keretakan.

Pertemuan di London untuk memperingati 70 tahun berdirinya aliansi itu kemungkinan akan dikenang karena insiden yang satu ini: yakni ketika PM Kanada Justin Trudeau dan para pemimpin dunia lain tertangkap basah sedang menertawakan Presiden AS Donald Trump. Mereka tidak sadar bahwa mikrofon dalam kondisi menyala ketika membicarakan Trump.Menanggapi cemoohan Trudeau, Trump mengatakan, “Well, ia bermuka dua.”

Trudeau membantah mengolok-ngolok Trump. “Hubungan antara Kanada dan Amerika Serikat luar biasa kokoh, dan saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Trump dan timnya.”

Namun insiden itu merusak suasana hati. Trump membatalkan konferensi pers yang sudah dijadwalkan dan meninggalkan KTT itu.

Sementara itu, Presiden Perancis Emmanuel Macron bersikukuh membela pernyataannya yang mengundang kontroversi bahwa NATO sedang mengalami “mati otak”.

Sejumlah analis berpendapat, bentrokan kepribadian dan visi sedang terjadi dalam tubuh NATO.

Ian Lesser dari organisasi think-tank German Marshall Fund of the United States mengatakan, “Seseorang harus memimpin. Tentunya bukan Jerman dalam kondisi saat ini, sangat tidah mudah. Prancis bisa saja, tapi jika tidak ada Amerika Serikat, tidak akan ada NATO.”

Para pejabat NATO bersikeras mengatakan, kemajuan dicapai dalam belanja pertahanan. Turki terbujuk untuk tidak memblokir rencana untuk membela negara-negara Eropa Timur. Ankara sebelumnya menyatakan hanya bersedia memberikan dukungan pada rencana itu jika sekutu-sekutu NATO menyatakan bahwa para pejuang Kurdi di Suriah sebagai teroris.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan,“Kekuatan NATO adalah kita selalu bisa mengatasi perselisihan dan bersatu memenuhi tugas utama kita, yakni melindungi dan membela satu sama lain. Untuk kali pertama, kita membahas kebangkitan China – baik mengenai tantangan maupun peluang yang diajukannya, serta implikasinya bagi keamanan kita.”

PM Inggris Boris Johnson mengisyaratkan, ia mungkin mengikuti jejak AS dalam melarang perusahaan telekomunikasi China Huawei.

“Kami tidak bisa menyepelekan kepentingan keamanan nasional kami yang penting. Kami tidak bisa meremehkan kemampuan kerjasama kami dengan mitra-mitra keamanan Lima Mata, dan itu merupakan kriteria utama yang akan kami gunakan untuk membuat keputusan mengenai Huawei.”

Lima Mata adalah aliansi intelijen yang mencakup Inggris, AS, Australia, Kanada dan Selandia Baru.

Dalam sebuah pernyataan bersama, seluruh pemimpin 29 negara anggota NATO mengukuhkan kembali komitmen mereka untuk membela diri bersama-sama dan sepakat menyatakan bahwa tindakan-tindakan Rusia merupakan ancaman bagi keamanan Eropa-Atlantik. (VOA)