Saturday, 6 June 2020

Silahkan klik tulisan atau gambar untuk lanjut membaca Sergius Womsiwor Ungkap Pendaftaran Online di SMAN I Merauke Capai 250 Orang. Sergius Womsiwor Ungkap Pendaftaran Online di SMAN I Merauke Capai 250 OrangMERAUKE, LELEMUKU.COM - Kepala Sekolah SMA N I Merauke, Sergius Womsiwor menyatakan Hingga Kamis (3/6/2020), jumlah calon siswa yang telah mendaftar di SMA N I Merauke sebanyak 250 orang. Jumlah ini diperkirakan meningkat ketika pendaftaran dilakukan secara offline yang akan dimulai Senin(8/6/2020).

Pada tahun ini, kata Sergius Womsiwor, pihaknya akan menerima siswa sebanyak 12 rombongan belajar dimana setiap kelas maksimal 36 siswa. Sehingga totalnya 432 siswa dan pendaftaran secara offline yang akan dimulai 6 Juni mendatang.

"Sampai sekarang jumlah siswa yang telah mendaftar secara online sudah mendapai 250 orang. Makanya sekarang ada penambahan ruangan kelas,"’ jelasnya.

Sebagai sekolah inklusif, kata Sergius Womsiwor, SMAN I Merauke selain menerima siswa formal tapi juga siswa non formal.

Dikatakan pendidikan inklusif iniperlu jelaskan baik-baik kepada masyarakat, sehingga publik dapat memahami arti dari pendidikan inklusif sebagai satu pendidikan formal dan satunya informal.

Menurut dia pendidikan inklusif formal adalah anak-anak yang dalam kehidupan sehari-hari mengikuti proses kegiatan belajar mengajar mengikuti pendidikan formal dari SD, SMP dampai SMA.

"Yang dimaksud inklusuf adalah ketika mereka ini ada di sekelah tapi mengalami kesulitan belajar yang disebabkan oleh persoalan dari rumah. Misalnya, ada anak dari daerah yang jauh tapi mereka mengalami kesulitan makan minum, kesulitan pakaian, kesulitan sepatu dan lain-lain. Nah, disitu sekolah mengambil peran untuk mengatasi persoalan itu dan itu yang disebut pelayanan inklusif," jelasnya.

Juga ketika anak tersebut mengambil keterlambatan dalam pembelajaran karena rapa aspek tersebut yang berdampak pada anak sehingga tidak berkonsentrasi di dalam kelas mengikuti belajar mengajar maka harus diinventarisasi perindividu sehingga menjadi dasar keputusan untuk menempatkan anak pada tempat yang sesungguhnya.

"Itu kalau anak mengalami kesulitan belajar," katanya.

Sementara inklusif non formal diberikan kepada anak-anak yang sudah terindikasi dengan jelas persoalan yang dialami. ‘’Seperti anak-anak kita yang ada di pinggir jalan yang kesehariannya membuat Kota Merauke suatu pandangan yang kurang sedap di mata.

Seperti anak-anak yang biasa hirup lem aibon,’’ katanya. Guru yang akan mendampingi mereka, kata dia, adalah guru khusus yang akan dilatih untuk bagaimana bisa mengubah anak-anak tersebut dari kebiasaan menghirup lem aibon untuk belajar. ‘’Jadi guru yang harus keluar dari sekolah menemui mereka,’’ jelaasnya. Saat ini, kata dia, jumlahnya sudah mencapai 270 orang anak yang berada di sejumlah titik di Kota Merauke.(infopublik)