Iklan

Jan Jap Ormuseray Ungkap Pencapaian DKLH Berantas Perusakan Hutan Papua


JAYAPURA, LELEMUKU.COM – Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray, SH., M.Si mengungkapkan pencapaian pemerintah dalam penanganan pemberantasan perusakan hutan di Papua.

Keberhasilan penanganan tersebut, diantaranya membongkar penampungan kayu pecakan di industri di Kabupaten Jayapura, yaitu pengangkutan kayu jenis merbau sebanyak 6.831 batang atau 546,0585 M3, linggua sebanyak 775 batang atau 59,2456 m3 dan flooring jenis merbau sebanyak 23.451 batang atau 161,6891 M3.

“Menggagalkan pengangkutan kayu pacakan sebanyak 63 kontainer di Pelabuhan Laut Jayapura, mendukung proses penyidikan dengan menyiapkan ahli bidang kehutanan untuk perkara pengangkutan kayu pacakan baik di Surabaya dan Makassar yang ditangani Kementerian LHK,” ungkap dia kepada media di ruang kerjanya pada Kamis, 12 Mei 2022.

Selanjutnya, pihaknya melaksanakan lelang barang bukti sitaan kayu pacakan jenis merbau sebanyak 6.831 batang atau 545,0585 M3, kayu pacakan jenis linggua sebanyak 775 batang atau 58,2456 M3 dan kayu olahan berupa flooring jenis merbau sebanyak 23.451 batang atau 160,6891 M3.

DKLH juga memperoleh hasil lelang sebesar Rp1.862.064,402 sebagai nilai barang bukti, pelunasan penerimaan bukan pajak sebesar Rp422.449,426 dan dana reboisasi sebesar US$ 37.080,58 atau setara dengan Rp519.000.000 dan telah disetor ke rekening Kementerian Keuangan RI.

Ormuseray pun menambahkan Pemprov Papua dan Pemerintah Pusat kini fokus terhadap pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan jasa lingkungan ekowisata sebagai program prioritas dan menjadi solusi penyelamatan hutan Papua.

Beberapa produk HHBK yang dikembangkan melalui Cabang Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (CDKLH) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Papua adalah produk lebah madu dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Jayawijaya, minyak kayu putih dari KPHL Biak Numfor dan CDKLH Merauke, tepung sagu dan aneka kue sagu dari CDKLH Jayapura, Keerom dan Sarmi.

Aneka kue Mangrove dari CDKLH Mimika, KPHL Biak dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Waropen, minyak lawing dan abon mujair dari KPHP Bouven Digul, kopi pinang dan briket arang dari KPHP Kota Jayapura dan anyaman kulit kayu serta ukiran kayu dari CDKLH Merauke, Asmat, Jayapura dan Mappi

Kemudian pengembangan sarana ekowisata, yaitu tracking hutan sagu di Kampung Yoboi Kabupaten Jayapura, tracking mangrove di Adjafuk Kota Jayapura, tracking mangrove ruar di Biak Numfor, trancking hutan alam telaga kameri di Numfor, trancking mangrove di Supiori dan trancking Mangrove di Mimika serta pengembangan wisata telaga biru di Biak Numfor.

“Kami melakukan perlindungan hutan dengan cara mengalihkan perhatian masyarakat agar  tidak fokus  menebang pohon atau pembalakan liar. Tetapi dengan melakukan hal-hal lain yang bisa bermanfaat bagi masyarakat dari hutan,” tutup Ormuseray. (Laura Sobuber)

0 Comments